Awal Maret 2010 ini tepat setahun saya mengajar di SSA Baing Malalo.SSA itu kependekan dari Sekolah Satu Atap.
Mungkin ada yang merasa aneh dengan istilah Sekolah Satu Atap. Sekolah satu atap maksudnya adalah sekolah yang di dalamnya ada TK, SD dan SMP. Jangan dipikir siswanya banyak lho karna ada 3 tingkatan sekolah, justru sekolah Satu Atap sangat minim siswanya.
Saya mengajar SMP, siswanya hanya 48 orang yang terdiri dari Kelas 7, kelas 8 dan Kelas 9.Pemerintah mendirikan Sekolah Satu Atap untuk menjangkau siswa siswa yang tinggalnya jauh di pelosok yang tidak terjangkau oleh Sekolah Negri, so, dimana mana Sekolah Satu Atap itu pasti lah lokasinya jauh di daerah tepencil, terpelosok dan di pedalaman.
Setahun mengajar di sana, banyak sekali pengalaman yang saya dan teman teman sesama guru rasakan.Kami, guru hanya berjumlah 6 orang.. (jumlah yang sangat minim untuk ukuran SMP, mengingat mata pelajaran SMP kan ada banyak... jadi ada 1 orang guru yang mengajar 2 mata pelajaran.. Klo mata pelajaran yang diajarkan itu masih berhubungan siy gak papa.. ini malah ada yang jauh banget .. Gak nyambung pendidikan guru dengan mata pelajarannya. Misalnya ada guru IPS yang juga merangkap mengajar Biologi ( karna guru Biologi gak ada ). Wah tentu aja si guru IPS kerepotan menghafal pelajaran sebelum masuk kelas.. Ada lagi guru olah raga merangkap guru BP.. hhihihi gak nyambung bgt yah .. Tapi bagaimana lagi. Itu lah kondisi kami di sekolah Satu Atap.
Kendala mengajar di sekolah pedalaman ini lumayan banyak lho.... Salah satunya adalah transportasi ke sekolah yang kurang memadai. Sekolah Satu Atap tempat saya mengajar sangat jauh dari rumah.Kebetulan saya tinggal di Bukittinggi kota.Transportasi ke sekolah saya sangat susah.. Ada siy bus umum tapi hanya sampai simpang Danau Singkarak.. harus disambung lagi dengan bus masuk ke dalam sekitar 20 Km. Nah.. bus yang masuk ke dalam ini hanya ada 2 kali sehari, yaitu pukul 7.00 pagi dan nanti keluar dari daerah itu pukul 13.00
Gak mungkin saya harus naik Bus itu, mengingat rumah saya dari sekolah sekitar 2,5 jam perjalanan.. Klo harus mengejar Bus yang masuk pukul 07.00 berarti saya harus berangkat dari rumah puluk 05.30 Gak mungkin banget kan? Syukur Alhamdulillah suami sangat pengertian, sejak resign dari kantornya setahun yang lalu, beliau selalu siap mengantar dan menunggu sampai saya pulang sekolah...
Selain itu, karna kondisi jauh dari kota dan keramaian, siswa siswa di sana gak perah melihat kemajuan, mereka hanya terpaku dengan apa yang mereka rasakan dari kecil. Jadi mereka gak mempunya semangat yang tinggi untuk menraih pendidikan. Untuk sekolah pun kadang seolah guru yang sangat menginginkan mereka untuk sekolah. Kesadaran mereka sangat rendah untuk sekolah. Itulah tantangan yang paling besar saya rasakan.
Tak terasa udah setahun saya bolak balik sekolah- rumah yang jaraknya pulang pergi 180 km tiap hari... Wuihhh.. lumayan jauh dan bikin capek lho..
Satu yang membuat saya tetap semnagt menjalani semuanya adalah ingat kata Pak Ustad..
3 Hal ( pahala) yang gak akan pernah putus putus kita terima :
1. Doa dari anak Shaleh
2. Shadaqah Jariah
3. Ilmu yang bermanfaat...
Semoga Ilmu yang saya berikan pada murid murid, menjadi pahala saya yang tak akan putus .. Amiiin