Selasa, 04 November 2014

Apa itu LAPAROSKOPI ?

Laparoskopi Apa sih laparoskopi itu? Mengapa saya jarang mendengarnya?

Teknik bedah laparoskopi ditemukan pada akhir abad ke 20, dan merupakan suatu terobosan besar dalam bidang medis.

Laparoskopi berasal dari kata ”laparo” (bahasa Latin) yang berarti abdomen atau rongga perut, dan ”oskopi” yang berarti melihat melalui scope (lensa).
Laparoskopi adalah tindakan bedah yang dilakukan pada rongga perut (abdomen). Berbeda dengan bedah konvensional yang memerlukan sayatan mayor/besar hingga belasan sentimeter, laparoskopi hanya memerlukan luka sayat yang sangat minim, sekitar 0.5 hingga 1 cm di dinding perut.

Keuntungannya, luka sayat yang minimal tersebut sangat kecil beresiko pada perlengketan dan infeksi, serta lukanya jauh lebih cepat sembuh.
Tindakan laparoskopi umum diterapkan pada kasus-kasus kelainan pada organ di dalam rongga perut, seperti usus buntu, pengangkatan kantong empedu, penyakit batu empedu dan masih banyak lagi.

Perkembangan terbaru akhir-akhir ini, bahkan hanya diperlukan satu sayatan pada dinding perut di bawah pusar (Single IncisiĆ³n Laparoscopic Surgery).

Sedangkan pada kasus di bidang kandungan dan infertilitas, diperlukan tiga sayatan pada dinding perut. Satu di sekitar pusar, satu di bawah perut kiri dan satu lagi di sebelah kanan untuk melihat kedua tuba falopi. Sebagai pasien laparoskopi saya bisa mengatakan bahwa lokasi sayatan adalah sedikit dibawah pusar, dan di sekitar garis karet/ban celana dalam :D.

Bagaimana sih cara kerjanya?

Pasien diminta untuk berpuasa malam sebelum operasi. Pasien juga diminta untuk mengosongkan usus besar (rectum). Artinya diminta untuk BAB beberapa jam sebelum operasi, kadang pasien diberi obat melalui anus untuk membuang kotoran. Hal ini penting untuk mengurangi “racun” dalam tubuh selama operasi, dan pasien bisa terhindar dari rasa kebelet setelah operasi selesai dan bisa istirahat dengan tenang tanpa “keharusan BAB”.

Pasien akan dibius dengan anestesi umum, kemudian melalui luka sayatan kecil, alat yang disebut laparascope dimasukkan melalui lubang/sayatan di dinding perut.

Laparoscope adalah ’pengganti mata dokter”, -sebuah alat operasi dengan lensa mikro/ teleskopik, -berdiameter 5 – 12mm, yang terhubung dengan video kamera dan xenon (sumber cahaya). Jadi, dokter akan melihat dan mengoperasi bagian dalam perut pasien melalui display layar monitor TV. Keren kan? :D

Gas CO2 dimasukkan ke rongga perut pasien hingga menggembung dan terbentuk rongga sebagai bidang operasi ideal. Hal ini bertujuan untuk memudahkan dokter mengoperasikan alat-alat laparoscope dan tidak mengganggu atau melukai organ-organ lainnya di dalam perut.

Jangan kuatir, dosis dan durasi insuflasi CO2 pasti diawasi dengan sangat ketat oleh dokter. Gas CO2 adalah gas yang aman digunakan dalam operasi karena gas tersebut tidak terbakar dan mudah diserap oleh tubuh dan kemudian dibuang melalui respirasi.

Maksudnya tidak terbakar?

Begini, kadangkala digunakan electrosurgicalm, serupa “solder listrik” yang digunakan untuk membakar bagian-bagian atau jaringan yang mengganggu seperti kista, sehingga jaringan tidak terbentuk lagi, dan pendarahan bisa dihindari. Nah, gas CO2 tidak akan terbakar oleh alat-alat tersebut.

Ngeri aja atuh kalau terbakar…

Setelah operasi, apa yang terjadi?

Setelah laparoskopi selesai, pasien akan dibawa ke ruang pemulihan hingga tersadar dari pengaruh bius. Setelah dinyatakan aman, pasien bisa kembali ke ruang perawatan. Yang umum dirasakan adalah pusing, ngantuk, mual dan nyeri pada perut. Yakin aja, Anda akan ditangani dengan baik. 24 jam pertama pasca operasi, sebaiknya benar-benar bedrest ya…

Kembung itu wajar saja, karena memang perut kita ”dipompa” dengan gas CO2. Tanyakan pada dokter atau perawat, kapan boleh mulai minum dan makan. Jangan nekat minum/makan tanpa advis persetujuan dokter ya…

Harus kentut dulu ya?

Enggak juga sih… bisa kentut itu baik, tapi ada kalanya kentut nggak bisa bebas merdeka keluar kan… Dokter atau perawat akan mendengarkan pergerakan dan suara usus melalu stetoskop. Usus kita akan memberikan sinyal kapan usus kita aman untuk dimasuki minum atau makanan.

Intinya, ikuti apa kata dokter. That’s it.

Berapa lama pemulihannya?

Karena operasi laparoskopi ini sangat minim lukanya, resiko pendarahan dan perlengketan hampir tidak ada, maka pemulihannya relatif lebih cepat. Biasanya dokter akan memberikan antibiotik yang disuntikkan untuk mencegah infeksi di dalam.

Operasi laparoskopi saya

(Agustus 2014) hanya perlu ODC (One Day Care), artinya setelah terbebas dari pengaruh anestesi, saya bisa langsung pulang dan beristirahat di rumah.

Sakit nggak sih?

Yah, namanya dilukai ya tentunya ada rasa sakit. Tapi sakitnya bisa diatasi kok. Dokter akan memberikan obat penghilang rasa sakit (pain killer) secara oral dan anal. Ada satu jenis obat yang dimasukkan lewat -maaf, anus, untuk menghilangkan rasa sakit. Obat ini cukup ampuh menghilangkan rasa sakit dan tak nyaman pada perut.

Ada pendarahan?

Ya. Jelas.

Jangan kuatir, pendarahan pada luka operasi sangat minim kok, bahkan hanya diperlukan ganti perban 1 kali saja pada hari ke 3 atau hari ke 5. Kebetulan saya buka perban di hari ke 3
Setelah operasi laparoskopi organ reproduksi, biasanya akan ada pendarahan ringan-sedang yang keluar dari vagina seperti darah haid. Tidak sebanyak darah haid, tapi sebaiknya tetap ditampung dengan pembalut steril.
Pengalaman setiap pasien mungkin berbeda ya…

Berapa biayanya?

Sebelum menjalani operasi laparoskopi, tanyakan /pastikan dulu kepada dokter Anda atau rumah sakit tempat operasi berlangsung, tindakan apa yang akan diambil. Biasanya ada perbedaan biaya atas laparoskopi diagnostik (dokter melihat kondisi/gangguan di dalam tubuh pasien) -untuk menegakkan diagnosa secara tepat- dan laparoskopi operatif/ korektif (dokter mengoperasi dan mengkoreksi/membuang bagian-bagian yang mengganggu). Biayanya berkisar antara 12.5 juta hingga 21.5 juta, atau bahkan lebih, tergantung pada kondisi dan tindakan yang diambil pada waktu laparoskopi. Laparoskopi saya memakan biaya Rp 20 juta. Agak mahal memang karna selain memperbaiki tuba, ternyata ditemukan juga miom di dekat tuba. Jadi sekalian diangkat miomanya dan Alhamdulillah tuba saya tetap selamat.

Gimana setelah laparoskopi?

Bekas operasi akan ditutup perban dan plester steril anti air. Setelah pulang dari rumah sakit, kita boleh kok mandi seperti biasa, –jangan menggosok area plester– Sebaiknya makanlah makanan yang lunak dan mudah dicerna, supaya BAB lancar tanpa harus mengejan.

Nah, pada hari ke 3 -5 biasanya kita diminta untuk kontrol ke dokter. Dokter akan melihat kondisi luka bekas operasi dan mengganti perban.

Setelah itu bekas luka akan terasa agak gatal. Wajar kok. Jangan digaruk ya.. dinikmati saja… :D

Saya takkuuuttt…..

OK, saya bisa mengerti perasaan Anda.. tenang saja, jangan terlalu kuatir. Yakinkan diri bahwa Anda akan baik-baik saja. Berdoa menurut keyakinan juga membantu banget lho… Anda tidak akan melihat alat-alat operasi berupa pisau dan gunting yang mengerikan berderet-deret gitu kok…

dokter anestesi saya sangat santai, mengajak ngobrol dan menenangkan diri saya. Rasanya baru 5 hitungan saya terpejam, tau-tau saya membuka mata lagi sudah tersadar di ruang pemulihan… :D.

In short, harus siap lahir dan batin.. finansial dan mental…

Semangat!!

Catatan: beberapa informasi saya ambil dari website ini. Silakan klik untuk informasi lebih mendalam.

Tidak ada komentar: